CERPEN

Fathku Rozaq

cd

Aku adalah orang yang punya banyak hutang saat itu. Aku punya banyak hutang itu karena aku terlalu sering bermain game dengan berhutang. Aku bingung mau bagaimana lagi untuk membayar semua hutang-hutangku. Di dalam dompetku yang berwarna hitam dengan motif garis-garis itu hanya ada 2 lembar uang yang bergambarkan kapitan pattimura. Padahal hutangku 40 kali lipat dari uang yang aku punya. Aku hanya bisa termenung dan berfikir Bagaimana jika hari esok ajal menjemputku? Bagaimana dengan hutang-hutangku nanti? . Aku hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kembali. Urusan ajal semua ada di tangan Allah. Aku hanya bisa tawakal.

Aku beranjak dari tempat tidurku untuk mengambil air wudlu kemudian solat dan meminta petunjuk Allah. Setelah itu aku keluar rumah dan bermain untuk menenangkan pikiranku. Sahabatku yang bernama Redo mengajakku untuk keliling-keliling Temanggung. Dia tahu sebab akibat mengapa aku terlihat murung saat itu. Aku duduk di belakang dan Redo yang mengemudi. Kami berjalan-jalan menggunakan sepeda motor matic milik Redo.
Di perjalanan kamu membicarakan semua tentang Game Online karena kami ini gamers. Kemudian aku teringat lagi akan banyaknya hutangku pada teman-teman. Tak lama kemudian, di perempatan dekat mini market aku melihat suatu benda yang tergeletak di tengah-tengah jalan. Ciri-ciri benda itu berbentuk persegi panjang dengan warna biru tua. Aku pun sejenak bergumam benda apa itu???. Aku menyuruh Redo untuk berhenti. Aku turun dari sepeda motor matic milik Redo. Kemudian aku berjalan mendekati benda persegi panjang dengan warna biru itu. Tak kusangka itu adalah sebuah dompet kusut yang berisikan SIM (Surat Ijin Mengemudi), STNK (Surat Tanda Nomor Kendaraan), Rekening Bank, dan sejumlah uang Rp 600.000,-. Aku berpikir sejenak apakah ini anugerah dari Allah untuk membayar semua hutang-hutangku??? Atau Allah sedang mengujiku???. Aku dan Redo pun lari menuju sepeda motor kemudian langsung tancap gas untuk pergi dari tempat itu.
Aku dan Redo memutuskan untuk mengurus dompet itu keesokan harinya saja karena hari sudah larut malam. Aku dan Redo pun pulang. Di rumah aku teringat lagi akan hutang yang aku miliki. Dalam hati aku telah berniat untuk menggunakan uang ini untuk menebus semua hutang-hutangku. Tapi disisi lain aku di bayang-bayangi oleh ucapan yang pernah di ucapkan oleh orang tua ku janganlah menggunakan sesuatu yang bukan hak kamu. Kata-kata itu membuat aku tercengang. Aku tak akan mengambil uang itu untuk kepentinganku sendiri. Aku berniat untuk mengembalikan dompet itu ke pemiliknya.
Keesokan harinya aku menemui Redo. Ternyata redo juga sepemikiran denganku yaitu untuk mengembalikan dompet itu ke pemiliknya. Hal-hal yang kami lakukan yaitu awalnya mencari alamat si pemilik. Aku mencari solusi untuk mencari alamat itu. Aku teringat di dalam dompet itu terdapat alamat si pemilik dompet. Aku mengeluarkan dompet itu dari tas mungilku. Di situ tertera bahwa si pemilik dompet bertempat tinggal di Kecamatan Tlogomulyo.
“Tlogomulyo daerah mana ya Do???” tanyaku dengan bingung.
“Emm…mungkin sebelum Bukit Cinta,” jawab Redo dengan ragu.
“Oiyya yaa… tlogomulyo kan daerah Bukit Cinta.” Tegasku dengan lantang.
“Ayo kita coba kesana!!” ajak Redo dengan semangat.
Aku dan Redo langsung tancap gas menuju Tlogomulyo. Di perjalanan aku berdoa semoga bertemu dengan si pemilik dompet sebelum si pemilik dompet itu melaporkan ke polisi. Kami pergi ke Tlogomulyo melewati kampir.
Kami langsung menuju pusat Tlogomulyo. Di tengah-tengah perjalanan kami bertemu seorang nenek-nenek tua yang berprofesi menjadi seorang petani.
“Permisi Nek..kalo mau ke Tlogomulyo lewat mana ya???” Tanya Redo kepada si petani.
“Ituu di perempatan belok kanan.” Jawab si nenek dengan sangat singkat.
Aku bergumam judes amat si nenek. Aku langsung meninggalkan si Nenek. Lalu Redo mengucapkan terimaksih ke nenek. Kami meninggalkan si nenek. Terus terang aku sangat kesal dengan sikap si nenek. Di perjalanan aku dan Redo membicarakan tentang si nenek. Ternyata Redo sependapat dengan ku.
Di perajalanan kami menemukan nama-nama desa yang unik yaitu NGAGLIK. Kami pun tertawa saat mendengar kata ngaglik. Perjalanan yang panjang itu membuat kami lelah. Kami berniat untuk berhenti sejenak untuk sholat. Aku berdoa semoga perjalananku membuahkan hasil. Setelah sholat, kami membeli Roti di sebuah warung kecil yang ada di Tlogomulyo. Kami juga beristirahat sejenak sambil melihat-lihat isi dompet. Ternyata si pemilik dompet itu bernama Fatkhu Rozaq . Redo bertanya pada ibu-ibu yang memiliki warung itu.

“Bu…maaf mengganggu, ibu tau rumahnya Fatkhu??? Tanya Redo dengan lemah lembut.
“Ohh Fatkhu…kalian turun mentok terus belok kanan. Rumahnya menghadap timur nak” jawab ibu dengan lemah lembut pula.
Kami pun langsung bergegas untuk meninggalkan warung dan beranjak pergi menuju rumah Fatkhu. Jalan itu sangat curam dan terbuat dari batu. Tak lama kemudian, kami menemukan rumah Fatkhu yang terbuat dari kayu halaman yang cukup luas. Kami langsung mengetuk pintu.
Tok tok tok… Assalamu’alaikum..toktoktok….
Tak lama kemudian pemilik rumah itu keluar. Sosok nenek-nenek tua renta yang membukakan pintu untuk kami. Aku pun iba melihat si nenek.
“Maaf nek benarkah ini rumahnya Fatkhu???” Tanya ku kepada si nenek tua itu.
“Iyya nang…sini masuk dulu, tak panggilan nang fatkhu.” Jawab si nenek tua dengan nada lirih.
Aku dan Redo sangaaaat senang akhirnya perjuangan kami tak sia-sia. Kami pun masuk kedalam rumah. Di dalam rumah itu sangaaat bau, tempatnya berserakan, tempat duduk saja hanya sebuah jengkok. Aku sangat iba. Di sela keibaanku, tiba-tiba fatkhu datang dengan celana boxer dan baju komprang.
“Apa benar saudara ini yang bernama Fatkhu Rozaq??? Tanya ku pada pria bercelana boxer.
“Ohh…bukan, nama saya memang Fatkhu tapi bukan Fatkhu Rozaq, nama saya Fatkhu Rozali” jawab Fatkhu dengan bingung.
“Ohh yaudah mas mungkin salah orang. Di desa ini yang namanya fathku itu cuma kamu mas,” jawab ku dengan kesal.
“Yaa setau saya cuma saya yang bernama Fathku,” tegas pria itu.
“Ya sudah mas terimakasih, maaf mengganggu,” kata Redo dengan senyuman kecewa.

Aku dan Redo langsung berpamitan dan beranjak pergi dari rumah itu. Kami kembali beristirahat. Sungguh menyesal ternyata pria tadi bukan lah orang yang kami cari. Kemana lagi kami harus mencari padahal fatkhu di desa ini hanya dia seorang. Niat untuk menggunakan uang itu tumbuh lagi dari perasaanku. Redo meminjam dompet itu. Dia mencari info yang lebih tepat. Tak di sangka di beralamatkan di desa Ngaglik. Aku pun tercengang saat mendengar kata itu, aku tertawa sambil ragu dengan kata-kata Redo. Ternyata desa yang namanya unik tadi lah alamat si pemilik dompet tepatnya si Fathku Rozaq.
Kami harus memutar balik lagi jauhnya sekitar 3 km. Lumayan jauh jarak itu. Tapi kami tetap berusaha untuk mencari rumah fatkhu rozaq. Di perjalanan kami bercerita tentang keapesan kejadian hari itu. Saat sampai di depan gapura desa Ngaglik, kami pun kembali tertawa. Tak tau mengapa kata Ngaglik itu sangat unik dan lucu. Kami pun masuk ke desa itu, jalan masuk ke desa itu menanjak sampai-sampai motorku tidak kuat menanjakinya. Dalam hati aku mengucapkan Takbir.
“Allahuakbar…Allahuakbar” gumamku saat menaiki tanjakan.
Sampai di atas kami sangat lah senang dapat menaklukan tanjakan. Ternyata di desa itu sangat bersih, indah, dan sawahnya juga subur. Di dekat sana kami bertanya pada seorang ibu yang sedang menggendong anaknya di halaman rumah.
“Bu.. maaf mengganggu, apa ibu tau rumahnya Fathku Rozaq???” tanya Redo pada ibu-ibu itu.
“Ohh di sini rumahnya, saya ibunya Rozaq. Ini teman-temannya Rozaq ya?? Sini masuk dulu,” jawab si ibu.
Belum sempat menjawab ibu pun masuk dan memanggil Fatkhu. Kami masuk rumah itu kemudian datanglah pria yang bernama fathku tadi. Ternyata benar dia adalah Fatkhu Rozaq yang kami cari. Kami pun mengembalikan dompetnya. Ternyata Fatkhu tidak tau kalau dompetnya telah hilang. Dia berterimakasih kepada kami. Fathku adalah seorang karyawan di sebuah mini market dimana Aku dan Redo menemukan dompet kusut itu.
Kami langsung ingin berpamitan karena matahari akan terbenam. Tapi, sebelum kami pulang kami disuruh makan terlebih dahulu. Aku dan Redo pun senang karena dari tadi pagi belum makan. Keluarga mereka sangat ramah. Kamu bercakap-cakap dengan keluarga mereka. Kami di dalam keluarga itu seperti diperlakukan seperti anak kandung sendiri. Beberapa saat kemudian kami berpamitan, saat berpamitan di depan rumahnya kami di beri imbalan yaitu sejumlah uang yang jumlah nominalnya cukup besar bagi kami dan kami di mintai nomer telpon genggam kami. Kami pun berpamitan dan beranjak meninggalkan rumah fatkhu rozaq.
Aku sangat senang bisa mengenal dekat keluarga fatkhu rozaq. Uang yang di beri oleh keluarga fatkhu ku gunakan untuk membayar semua hutangku. Kembali lagi aku berpikir ternyata Allah sedang menguji sikapku. Aku bersyukur atas semua ujian yang Allah berikan. Termikasih ya Allah kau telah memberi aku petunjuk yang sangat bermakna. Sekarang aku tau bahwa setiap kebaikan pasti suatu saat akan di balas dengan kebaikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s